Jajanan Kaki Lima Pontianak yang Viral dan Selalu Ramai Diburu
Kalau ngomongin Pontianak, jujur ya, yang pertama kali bikin saya kangen itu bukan mall atau tempat wisatanya. Tapi jajanan kaki limanya. Serius. Kota ini tuh punya vibe kuliner malam yang beda banget dibanding kota lain yang pernah saya datangi.
Dulu saya kira jajanan viral itu cuma soal makanan yang “instagramable”. Ternyata enggak juga. Di Pontianak, yang viral biasanya karena rasanya emang nagih, porsinya brutal, dan harganya masih masuk akal. Kadang tempatnya sederhana banget, cuma gerobak pinggir jalan, tapi antreannya bisa bikin orang mikir ada pembagian sembako gratis.

Salah satu kawasan yang menurut saya paling hidup buat cari street food malam ada di sekitar Gajah Mada dan area kuliner Pal 5. Tempat kayak Pal 5 Wisata Kuliner hampir tiap malam rame sama anak muda, keluarga, sampai orang yang baru pulang kerja dan cari makanan murah tapi enak.
Saya pernah datang sekitar jam 7 malam pas weekend. Salah besar. Parkir aja susah. Tapi justru dari situ saya sadar, kalau tempat kaki lima udah rame terus selama bertahun-tahun, biasanya kualitas rasa mereka emang konsisten.
Yang paling sering saya lihat viral beberapa tahun terakhir itu choipan atau chai kue khas Pontianak. Bentuknya sederhana, dikukus, isi bengkuang atau kucai, tapi entah kenapa susah berhenti makan. Salah satu yang cukup terkenal adalah Ko Kue & Chaikue Goreng HALIM yang sering jadi tujuan orang buat jajan malam. Kulitnya tipis, bawang gorengnya banyak, dan sambalnya lumayan nendang.
Choipan sendiri memang termasuk jajanan legendaris Pontianak yang sampai sekarang masih populer. Bahkan banyak media kuliner nyebut chai kue sebagai salah satu street food wajib coba kalau datang ke Pontianak. (Kalbar Time)
Selain itu, kerupuk basah alias temet juga lagi sering lewat di TikTok dan konten food vlogger lokal. Awalnya saya kira rasanya bakal mirip pempek biasa. Eh ternyata beda. Teksturnya lebih lembut dan aroma ikannya lebih terasa.
Saya pertama kali coba di tempat yang jual versi kuah sambal kacang pedas. Dan jujur aja, itu bikin ketagihan sih. Salah satu spot yang cukup dikenal buat coba makanan khas ini adalah Kuliner Pontianak- Kerupuk Basah Sidak Ulu - Makanan Khas Pontianak.
Menurut beberapa ulasan kuliner Pontianak, kerupuk basah memang jadi salah satu jajanan kaki lima yang paling dicari wisatawan karena unik dan susah ditemukan di luar Kalimantan Barat. (IDN Times)
Nah, kalau ngomongin yang viral di kalangan anak muda sekarang, pentol kuah pedas jelas masuk daftar. Saya sempat skeptis karena mikir, “ah paling pentol biasa.” Tapi ternyata kuahnya tuh pedes gurih dan bikin orang rela antre lama.
Bahkan ada gerobakan pentol jumbo di Pontianak yang viral karena porsinya gede dan level pedasnya bikin keringetan. Katanya sih sering habis sebelum malam. (Hobby Makan)
Yang menarik dari jajanan kaki lima Pontianak tuh variasinya banyak banget. Dalam satu area bisa ada:
telur gulung,
tahu gejrot,
cilor,
risol mayo,
nasi bakar,
pentol kuah,
sampai es doger.
Area sekitar Untan bahkan dikenal sebagai surganya jajanan murah buat mahasiswa. Kaki lima untan sering jadi titik kumpul orang cari makan malam murah meriah. Dan ya… kadang satu orang beli lima jenis jajanan sekaligus. Saya juga pernah begitu, lapar mata banget.
Menurut laporan kuliner lokal, daerah sekitar Jalan Daya Nasional dekat Untan memang dipenuhi penjual kaki lima yang selalu ramai karena lokasinya strategis dan harga makanannya ramah kantong mahasiswa. (Kalbar Time)
Satu hal yang saya suka dari street food Pontianak adalah porsinya. Gak pelit. Kadang malah kebanyakan. Saya pernah beli kwetiau kaki lima malam-malam dan porsinya literally cukup buat dua orang.
Kalau mau cari yang lebih legendaris, banyak orang lokal nyaranin kuliner malam sekitar Jalan Veteran atau Gajah Mada. Tempat seperti Kwecap VETERAN (Non Halal) dan Afu Chicken Rice hampir selalu disebut dalam daftar kuliner favorit Pontianak.
Dan ya, walaupun bukan sekadar “gerobakan biasa”, vibe kaki limanya masih dapet banget. Duduk di kursi plastik, kipas angin muter pelan, suara wajan gede dari dapur… itu justru suasana yang dicari.
Saya juga sempat coba jajanan pagi di sekitar Gajah Mada. Ternyata pagi hari di Pontianak juga rame kuliner. Banyak penjual kue tradisional dan jajanan pasar berjejer di pinggir jalan. Mulai dari apam pinang, kue lapis, sampai gorengan yang baru diangkat dari minyak panas.
Bahkan ada liputan khusus yang membahas jajanan kaki lima pagi di Jalan Gajah Mada karena memang terkenal jadi spot berburu kue tradisional Pontianak. (20DETIK)
Lucunya, kadang makanan yang paling viral justru yang tampilannya biasa aja. Gak aesthetic. Gak fancy. Tapi rasanya ngena.
Dan menurut saya itu kekuatan utama kuliner kaki lima Pontianak. Mereka gak terlalu sibuk bikin tampilan cantik buat media sosial. Fokusnya masih rasa dan porsi.
Oh iya, satu tips penting kalau mau wisata kuliner kaki lima di Pontianak: jangan datang terlalu malam kalau mau makanan lengkap. Banyak jajanan viral yang habis sebelum jam 9 malam. Saya pernah telat datang buat beli choipan favorit orang lokal, dan tinggal bawang gorengnya doang. Sedih banget asli.
Kalau mau pengalaman paling seru, datang pas sore menjelang malam. Udara mulai adem, lampu-lampu kaki lima mulai nyala, dan aroma makanan mulai bercampur di jalanan. Itu suasana yang susah dijelaskan sih.
Kadang saya mikir, makanan viral itu bukan cuma soal rasa. Tapi soal pengalaman makannya juga. Dan Pontianak punya itu.
Bukan kota yang terlalu heboh. Tapi justru karena itu, pengalaman kulinernya terasa lebih jujur dan autentik.