kuliner surabaya untuk wisata keluarga saat akhir pekan

 Kalau ngomongin kuliner Surabaya buat wisata keluarga saat akhir pekan, jujur saya selalu bilang satu hal ke teman-teman: jangan cuma cari yang viral. Kadang tempat yang terlalu hype malah bikin capek sendiri. Parkir penuh, waiting list panjang, anak-anak rewel duluan sebelum makanan datang. Saya pernah ngalamin itu pas ngajak keluarga besar makan malam hari Sabtu. Baru duduk aja udah keringetan dan mood buyar duluan wkwk.

Akhirnya saya mulai lebih selektif cari tempat makan keluarga di Surabaya yang bukan cuma enak, tapi juga nyaman buat ngobrol lama. Apalagi kalau bawa orang tua atau anak kecil, suasana tuh penting banget. Ada tempat yang makanannya biasa aja tapi bikin betah karena area luas dan nggak berisik.

Surabaya sendiri sebenarnya surganya wisata kuliner keluarga. Mau seafood, makanan khas Jawa Timur, resto lesehan, sampai cafe garden yang adem juga ada. Bahkan beberapa tempat udah jadi langganan keluarga tiap weekend karena porsinya besar dan cocok sharing.

Surabaya sendiri sebenarnya surganya wisata kuliner keluarga. Mau seafood, makanan khas Jawa Timur, resto lesehan, sampai cafe garden yang adem juga ada. Bahkan beberapa tempat udah jadi langganan keluarga tiap weekend karena porsinya besar dan cocok sharing.

Buat saya, ada tiga tipe kuliner keluarga yang paling aman dipilih saat akhir pekan di Surabaya:

  • restoran dengan area luas dan parkiran lega

  • tempat makan khas Surabaya yang legendaris

  • resto bernuansa alam buat santai sore

Dan anehnya ya, makin umur nambah, saya malah lebih suka tempat makan yang suasananya tenang dibanding tempat instagramable. Dulu beda cerita. Semua harus estetik. Sekarang? Yang penting sambalnya enak dan nggak ngantri sejam.

Kalau keluarga suka seafood, saya cukup sering merekomendasikan Layar Seafood Manyar Kertoarjo. Tempat ini hampir selalu rame saat weekend, jadi biasanya saya datang agak sore sebelum jam makan malam. Menu kepiting sausnya sering jadi rebutan di meja keluarga saya. (Metropolitan News)

Yang bikin cocok buat wisata keluarga tuh karena pilihan menunya banyak. Ada ikan bakar, cumi, udang, sampai sayur buat orang tua yang kadang nggak mau makan “berat”. Anak-anak juga biasanya aman karena tersedia menu non-pedas.

Kalau pengen suasana yang lebih adem dan tradisional, saya suka suasana di Gubug Makan Mang Engking Yani Golf Surabaya. Konsep saung di atas kolam itu memang klasik, tapi masih nyaman banget buat keluarga besar. Apalagi kalau datang sore menjelang malam. Anginnya enak.

Saya pernah ke sana pas acara kumpul keluarga kecil. Awalnya takut terlalu mahal karena lokasinya di area golf, ternyata masih cukup masuk akal kalau makan rame-rame dan sharing menu. Biasanya saya sengaja pesan gurame bakar, cah kangkung, sama udang madu. Kombinasi aman. Nggak pernah gagal.

Nah, kalau mau cari kuliner khas Surabaya yang lebih “lokal banget”, saya selalu bilang jangan pulang sebelum coba rawon atau rujak cingur. Ini wajib sih.

Beberapa media lokal juga menyebut kuliner seperti Rawon Setan, lontong balap, dan rujak cingur sebagai destinasi favorit wisata kuliner akhir pekan di Surabaya. (Metropolitan News)

Saya dulu termasuk orang yang anehnya nggak suka petis. Bau katanya terlalu kuat. Tapi setelah dipaksa nyobain rujak cingur beberapa kali sama teman Surabaya asli, akhirnya malah ketagihan. Kadang lidah tuh emang perlu dilatih pelan-pelan ya.

Untuk sambal khas Surabaya, saya sering mampir ke Depot Bu Rudy Dharmahusada. Tempat ini hampir selalu jadi tujuan wisatawan luar kota juga karena sambalnya terkenal banget. (IDN Times)

Lucunya, pertama kali makan di sana saya kira sambalnya biasa aja. Eh ternyata pedesnya muncul belakangan. Minum es teh dua gelas masih kepedesan. Tapi justru itu yang bikin nagih.

Kalau keluarga suka makan iga penyet atau menu penyetan khas Jawa Timur, Warung Leko juga aman buat jadi pilihan akhir pekan. Tempatnya family friendly dan menunya gampang diterima semua umur.

Biasanya kalau makan rame, saya lebih suka pilih tempat yang menunya variatif. Karena dalam satu meja pasti ada:

  • yang suka pedas ekstrem

  • yang cuma mau ayam goreng

  • yang diet tapi ujungnya makan kerupuk juga

  • dan anak kecil yang maunya kentang doang

Makanya resto keluarga di Surabaya yang menunya lengkap lebih worth it dibanding tempat spesialis satu menu.

Kalau lagi pengen suasana hijau dan santai, KEBON KOTA TROPICAL GARDEN RESTAURANT & HALL cukup menarik buat dikunjungi saat weekend. Tempat seperti ini biasanya cocok buat keluarga yang pengen foto-foto sambil makan santai.

Saya pernah datang ke resto konsep garden begini pas hujan gerimis kecil. Dan entah kenapa makanan jadi terasa lebih enak. Padahal menunya sederhana banget. Kadang pengalaman makan tuh dipengaruhi suasana juga.

Buat keluarga yang suka ikan bakar, Ikan Bakar Cianjur - Manyar juga sering jadi pilihan aman. Tempatnya nyaman buat makan rame-rame dan cocok untuk keluarga yang bawa orang tua.

Ada satu kesalahan yang dulu sering saya lakukan saat wisata kuliner keluarga di Surabaya: datang terlalu malam. Jangan remehkan macet akhir pekan Surabaya, terutama area Manyar, Gubeng, dan pusat kota. Kadang perjalanan 15 menit bisa jadi hampir sejam.

Sekarang saya biasanya punya trik sendiri:

  • makan siang agak awal sekitar jam 11

  • atau makan malam sebelum jam 6 sore

  • hindari jam prime time Sabtu malam

Simple sih, tapi lumayan menyelamatkan mood keluarga.

Kalau mau sekalian nongkrong santai, SAS Cafe N Resto juga cukup nyaman buat keluarga muda. Tempat seperti ini biasanya cocok kalau habis jalan-jalan sore lalu cari tempat makan yang nggak terlalu formal.

Dan jujur ya, wisata kuliner keluarga itu menurut saya bukan cuma soal makanan terenak. Kadang yang diingat malah obrolannya. Atau momen absurd kayak sambal tumpah, anak kecil ketiduran di kursi, atau bapak-bapak yang salah ambil pesanan meja sebelah. Itu yang bikin memorable.

Beberapa keluarga juga suka cari tempat makan yang sekalian dekat area wisata. Kalau lagi di Surabaya Timur misalnya, sekarang banyak spot kuliner yang dekat kawasan hiburan keluarga modern dan area nongkrong baru. Beberapa kawasan bahkan mulai dikenal sebagai destinasi kuliner sekaligus tempat jalan santai saat malam minggu. (Pikiran Rakyat Surabaya)

Saya pribadi lebih suka wisata kuliner yang nggak buru-buru. Datang santai, ngobrol panjang, pesan makanan bertahap. Kadang malah menu paling sederhana yang menang. Pernah satu meja pesan macam-macam seafood mahal, tapi yang paling cepat habis malah tempe penyet. Ironis emang.

Oh iya, satu tips penting lagi kalau wisata kuliner keluarga di Surabaya saat akhir pekan: selalu cek parkiran dan kapasitas tempat. Serius. Ini underrated banget. Tempat makan enak tapi parkir susah bisa bikin stres sebelum makan.

Dan kalau bawa lansia, saya biasanya menghindari tempat yang terlalu ramai musik atau kursinya terlalu sempit. Detail kecil kayak gitu ternyata pengaruh besar ke kenyamanan keluarga.

Pada akhirnya, kuliner Surabaya buat keluarga itu memang punya daya tarik sendiri. Rasanya kuat, porsinya besar, pilihan makanannya banyak, dan suasananya cocok buat kumpul lama. Nggak heran banyak orang rela muter jauh cuma buat makan malam bareng keluarga di akhir pekan.

Kadang saya mikir, alasan orang suka wisata kuliner bukan cuma karena lapar. Tapi karena makanan memang sering jadi alasan paling gampang buat berkumpul. Dan Surabaya ngerti banget soal itu.

Next Ryuzaki
Next Ryuzaki saya adalah seni konten blog yang memberikan informasi seputar minat para orang-orang yang di seluruh dunia