Makanan Khas Pontianak Halal dan Terkenal yang Wajib Dicoba, Jangan Sampai Salah Pilih

Kalau ngomongin kuliner di Pontianak, jujur aja, saya dulu termasuk orang yang mengira makanannya ya cuma seafood sama kopi. Ternyata setelah beberapa kali muter-muter cari makanan lokal, saya baru sadar kalau makanan khas Pontianak itu unik banget. Banyak yang dipengaruhi budaya Melayu, Tionghoa, sampai Dayak, dan kombinasi rasanya tuh kadang susah dijelasin.

Yang paling bikin saya kaget, ternyata cukup banyak makanan khas Pontianak yang halal dan gampang ditemukan. Awalnya saya sempat ragu waktu mau nyobain beberapa makanan legendaris karena takut campur bahan non-halal. Tapi setelah tanya-tanya warga lokal dan penjual, ternyata ada banyak versi halal yang justru lebih terkenal di kalangan wisatawan muslim.

Makanan Khas Pontianak Halal

Dan serius, beberapa makanan ini tuh bikin nagih. Ada yang kelihatannya sederhana, tapi rasanya “nempel” di kepala berhari-hari. Agak lebay sih, tapi ya memang begitu kenyataannya.

1. Chai Kue Pontianak

Kalau disuruh pilih makanan khas Pontianak yang paling sering saya cari, mungkin jawabannya chai kue. Bentuknya mirip dumpling transparan dengan isian sayur seperti bengkuang, kucai, talas, atau rebung.

Yang bikin khas itu teksturnya. Kulitnya kenyal tapi lembut, lalu disiram bawang putih goreng dan minyak bawang. Simpel banget sebenarnya, tapi justru itu enaknya.

Banyak orang mikir semua chai kue itu non-halal karena identik dengan kuliner Tionghoa. Padahal sekarang sudah banyak penjual chai kue halal di Pontianak. Biasanya mereka kasih label halal atau memang khusus jual menu tanpa babi dan minyak non-halal.

Harga chai kue juga masih murah. Saya pernah beli isi 10 cuma sekitar Rp20 ribuan. Buat sarapan atau ngemil sore tuh pas banget.

Kata kunci yang sering dicari orang juga biasanya:

  • chai kue halal Pontianak

  • chai kue terenak di Pontianak

  • jajanan khas Pontianak halal

Nah itu penting kalau Anda blogger kuliner. Keyword semantik begini bantu artikel lebih gampang kebaca Google.

2. Bubur Pedas Khas Melayu

Jangan salah paham dulu. Bubur pedas ini bukan bubur yang rasanya super cabai. Saya dulu kira bakal kayak seblak level 10 ternyata enggak sama sekali.

Nama “pedas” berasal dari rempah-rempah yang digunakan. Isi buburnya lumayan ramai: ada daun pakis, kangkung, kacang tanah, ikan teri, dan beras yang disangrai lalu ditumbuk.

Pertama kali coba, saya agak bingung sama rasanya karena beda dari bubur ayam biasa. Tapi makin dimakan malah makin enak. Apalagi kalau masih hangat pas pagi hari.

Bubur pedas ini termasuk makanan khas Melayu Pontianak yang halal dan cukup legendaris. Biasanya dijual pagi sampai siang. Kalau datang kesiangan ya habis. Saya pernah ngalamin sendiri dan kesel banget karena udah muter jauh.

Lucunya, makanan tradisional seperti ini sering diremehkan wisatawan. Padahal justru makanan lokal begini yang bikin pengalaman kuliner terasa autentik.

3. Pengkang

Nah ini underrated banget menurut saya.

Pengkang adalah makanan berbahan beras ketan yang diisi ebi lalu dibungkus daun pisang dan dipanggang. Bentuknya kecil memanjang, sekilas mirip lemper tapi lebih padat.

Yang bikin khas itu sambalnya. Pengkang biasanya dimakan pakai sambal kepah atau sambal kerang yang rasanya pedas manis gurih. Kombinasi asap daun pisang dan sambalnya tuh gila sih, enak banget.

Saya pertama kali makan pengkang waktu hujan deras sore hari. Klise memang, tapi suasananya pas banget. Dari situ jadi ngerti kenapa makanan ini terkenal di Kalimantan Barat.

Beberapa tempat sekarang juga bikin pengkang halal khusus untuk wisatawan muslim. Jadi lebih aman kalau mau coba tanpa was-was.

4. Sotong Pangkong

Nama makanannya unik, dan pertama kali dengar saya malah ketawa dikit. “Pangkong” itu artinya dipukul.

Jadi sotong atau cumi dikeringkan lalu dipukul supaya empuk. Setelah itu dibakar dan disiram sambal kacang atau sambal pedas manis.

Teksturnya beda dari cumi biasa. Lebih chewy tapi tetap enak dikunyah. Kadang bikin rahang capek dikit sih, haha.

Sotong pangkong paling ramai biasanya saat bulan Ramadan. Hampir jadi ikon kuliner malam di Pontianak. Banyak orang rela antre panjang cuma buat beli beberapa bungkus.

Yang saya suka, aromanya itu loh. Asap bakaran cumi bercampur sambal langsung bikin lapar bahkan kalau habis makan sekalipun.

5. Kwe Kia Theng Halal

Ini salah satu makanan yang sering bikin wisatawan bingung karena versi aslinya memang ada yang non-halal. Tapi sekarang cukup banyak kwe kia theng halal di Pontianak.

Kwe kia itu semacam lembaran tepung beras yang disajikan dengan kuah kaldu dan topping. Versi halal biasanya menggunakan ayam atau sapi.

Cuacanya Pontianak kadang panas banget, tapi anehnya makanan berkuah seperti ini tetap dicari. Saya juga heran kenapa bisa begitu.

Mungkin karena kuahnya ringan dan gurih. Tidak terlalu berat di perut.

Kalau Anda mencari:

  • makanan halal malam di Pontianak

  • kuliner malam Pontianak terkenal

  • rekomendasi makanan khas Pontianak

Biasanya kwe kia theng hampir selalu masuk daftar.

6. Lek Tau Suan

Saya sempat salah kira makanan ini bubur kacang hijau biasa. Ternyata beda jauh.

Lek tau suan dibuat dari kacang hijau kupas dengan kuah kental agak bening dan biasanya dimakan bersama cakwe. Rasanya manis hangat dan cocok dimakan malam hari.

Yang bikin unik, tekstur kacangnya masih terasa tapi lembut. Tidak hancur total seperti bubur biasa.

Kadang makanan sederhana justru paling membekas. Saya pernah nyobain dessert mahal di luar kota tapi malah lebih inget lek tau suan pinggir jalan dekat pusat kota Pontianak. Mungkin karena suasana juga pengaruh ya.

Dan kabar baiknya, banyak penjual lek tau suan yang halal karena memang bahan dasarnya aman untuk muslim.

7. Kopi Pontianak dan Pisang Srikaya

Oke ini memang bukan “makanan berat”, tapi terlalu sayang kalau dilewatkan.

Pontianak terkenal dengan kopi robusta yang kuat dan aroma khas. Biasanya disajikan bersama pisang srikaya atau roti bakar srikaya.

Saya bukan penggemar kopi pahit sebenarnya. Tapi kopi Pontianak beda. Ada rasa smoky dan earthy yang susah dijelaskan. Kadang kalau diminum pagi-pagi bisa bikin melek setengah hari.

Yang menarik, budaya ngopi di Pontianak tuh kuat banget. Warung kopi bukan cuma tempat minum, tapi tempat ngobrol, kerja, bahkan diskusi bisnis kecil-kecilan.

Kalau blogger kuliner membahas wisata kuliner Pontianak tanpa kopi, rasanya kurang lengkap sih.

Tips Memilih Kuliner Halal di Pontianak

Ini penting karena tidak semua makanan tradisional otomatis halal. Saya pernah hampir salah beli karena asal ikut antre panjang.

Beberapa tips yang biasanya saya pakai:

  • Cari label halal atau tanya langsung ke penjual

  • Pilih tempat makan yang memang dikenal ramah muslim

  • Hindari asumsi “ramai berarti aman”

  • Lihat apakah alat masak dicampur dengan menu non-halal

Kadang memang ribet dikit, tapi lebih tenang saat makan.

Sekarang untungnya makin banyak tempat makan di Pontianak yang terbuka soal bahan dan proses masak mereka. Jadi wisatawan muslim lebih nyaman.

Kenapa Kuliner Pontianak Selalu Dirindukan?

Menurut saya karena rasanya jujur. Tidak dibuat terlalu modern sampai kehilangan identitas.

Banyak makanan khas Pontianak masih mempertahankan resep lama. Rempahnya terasa, teknik masaknya tradisional, dan porsinya kadang sederhana. Tapi justru itu yang bikin memorable.

Saya pernah mencoba makanan viral yang tampilannya cantik banget buat Instagram, tapi rasanya biasa aja. Sedangkan pengkang atau bubur pedas yang tampilannya sederhana malah bikin pengen balik lagi.

Aneh ya kadang.

Dan satu hal lagi, harga makanan di Pontianak relatif masih bersahabat dibanding kota besar lain. Jadi wisata kuliner di sini tuh tidak terlalu menguras dompet.

Kalau Anda sedang mencari makanan khas Pontianak halal dan terkenal, mulai saja dari daftar tadi. Tidak harus semuanya sekaligus. Nikmati pelan-pelan sambil ngobrol dengan penjual atau warga lokal karena kadang cerita di balik makanannya justru lebih menarik daripada makanannya sendiri.

Next Ryuzaki
Next Ryuzaki saya adalah seni konten blog yang memberikan informasi seputar minat para orang-orang yang di seluruh dunia