Makanan Khas Surabaya yang Jarang Diketahui Wisatawan, Padahal Rasanya Bikin Nagih
Kalau ngomongin makanan khas Surabaya, kebanyakan orang langsung kepikiran rawon, rujak cingur, atau lontong balap. Memang itu legendaris banget. Tapi jujur aja, dulu saya juga termasuk orang yang “taunya cuma itu”. Setiap ada teman dari luar kota datang, rekomendasinya ya muter di makanan yang sama terus.
Sampai akhirnya saya pernah nyasar ke gang kecil dekat kawasan pasar lama waktu lagi nunggu hujan reda. Dan dari situ saya sadar, ternyata makanan tradisional Surabaya itu jauh lebih luas daripada yang sering muncul di TikTok atau Google Maps. Banyak kuliner lokal yang justru lebih sering dimakan warga asli dibanding wisatawan.

Lucunya, beberapa makanan ini malah susah ditemukan di mall atau pusat wisata modern. Harus masuk kampung, pasar tradisional, atau warung sederhana yang kadang papan namanya aja udah pudar. Tapi justru di situ rasa aslinya masih kerasa banget.
Dan ya… beberapa tempat bahkan kelihatannya kurang meyakinkan dari luar. Saya sempat ragu juga waktu pertama kali coba. Tapi ternyata salah besar.
1. Sego Sambel Mak Yeye Bukan Satu-Satunya, Ada Sego Sambel Tradisional yang Lebih “Nendang”
Banyak wisatawan kenal nasi sambel Surabaya dari tempat viral. Padahal model sego sambel rumahan khas Surabaya itu variannya banyak banget. Yang bikin beda biasanya ada di sambelnya.
Saya pernah makan di warung kecil dekat kawasan Wonokromo. Menunya sederhana: nasi panas, ikan pari asap, tempe tipis goreng, telur dadar, sama sambel bawang super pedas. Kedengarannya biasa aja kan? Tapi sambelnya itu lho… pedasnya bukan cuma numpang lewat.
Yang menarik, sambel Surabaya cenderung punya rasa gurih tajam karena campuran terasi matang dan minyak panas. Beda dengan sambel Jawa Tengah yang cenderung manis. Kadang ada aroma smoky sedikit karena cabainya digoreng dulu.
Wisatawan sering nyari makanan aesthetic, padahal warga lokal justru lebih percaya warung yang kipas anginnya bunyi “tek tek tek” dan tisu digantung pakai karet gelang. Aneh tapi nyata.
Tips kecil kalau mau cari sego sambel enak di Surabaya:
Cari warung yang buka malam sampai dini hari
Biasanya lauk ikan asap atau iwak pe punya rasa lebih otentik
Jangan malu lihat antrean sopir atau pekerja malam, itu sering jadi tanda enak
Saya pernah salah masuk warung yang review Google-nya tinggi banget. Ternyata sambelnya terlalu modern, kayak sambel franchise. Malah kehilangan karakter khas Surabaya.
2. Sate Klopo, Tapi yang Versi Kampung Lebih Juara
Kebanyakan orang tahu sate klopo dari tempat terkenal yang sering masuk YouTube kuliner. Tapi ada versi sate klopo tradisional yang menurut saya malah lebih autentik.
Buat yang belum tahu, sate klopo adalah sate daging sapi atau ayam yang dibaluri kelapa parut sebelum dibakar. Kelapa itu bikin aroma bakar jadi lebih gurih dan agak smoky. Kalau dibakar pas banget, pinggirannya sedikit garing dan wangi arangnya keluar.
Pertama kali saya coba versi kampung ini, saya kira bakal enek karena kelapanya banyak. Eh ternyata malah bikin nagih. Apalagi dimakan pakai serundeng dan sambal kacang yang agak encer.
Yang bikin saya heran, wisatawan sering fokus cari tempat besar padahal penjual sate keliling atau warung tenda kadang rasanya lebih konsisten. Ada satu bapak penjual sate dekat area perkampungan lama yang katanya sudah jualan lebih dari 20 tahun. Dagingnya dipotong kecil-kecil, tapi bumbunya nyerep sampai dalam.
Dan satu hal yang saya pelajari: sate klopo enak itu bukan cuma soal daging empuk. Kelapanya harus fresh. Kalau kelapa lama, aromanya langsung beda. Sedikit tengik gitu.
Sayangnya beberapa tempat viral sekarang terlalu fokus plating. Jadi rasa tradisionalnya agak hilang. Ya mungkin supaya cocok buat Instagram juga sih.
3. Lontong Kupang, Kuliner yang Banyak Orang Takut Coba Pertama Kali
Nah ini dia makanan khas Surabaya yang menurut saya paling underrated sekaligus paling bikin wisatawan bingung: lontong kupang.
Kupang itu semacam kerang kecil. Disajikan dengan lontong, kuah bawang putih petis, lento singkong, dan biasanya ditambah sate kerang. Sekilas tampilannya mungkin nggak terlalu menarik. Bahkan teman saya pernah bilang, “Ini yakin enak?”
Saya juga dulu mikir begitu.
Tapi setelah nyoba beberapa kali, ada sensasi gurih laut yang unik banget. Apalagi kalau ditambah perasan jeruk nipis dan sambal. Rasanya jadi kompleks. Ada asin, gurih, segar, sedikit manis dari petis.
Konon katanya, banyak warga lokal percaya makan lontong kupang paling pas ditemani es kelapa muda. Saya nggak tahu kenapa kombinasi itu works banget, tapi memang cocok.
Yang perlu diperhatikan:
Cari tempat yang kupangnya fresh
Kuah jangan terlalu bau amis
Lento harus masih renyah di luar
Saya pernah nekat beli di tempat yang sepi banget karena penasaran murahnya. Dan yah… besok paginya perut langsung demo. Jadi sekarang saya lebih hati-hati.
Kuliner tradisional seperti ini memang agak tricky. Tapi kalau ketemu tempat yang benar, rasanya susah dilupakan.
4. Semanggi Surabaya, Makanan Tradisional yang Mulai Langka
Ini salah satu makanan yang bikin saya sedih karena makin susah ditemukan.
Semanggi Surabaya sebenarnya sederhana banget. Daun semanggi rebus disajikan dengan sambal khas berbahan ubi jalar dan kacang, lalu dimakan pakai kerupuk puli. Tapi rasa sambalnya beda total dari pecel biasa.
Ada rasa earthy dan manis gurih yang khas. Teksturnya juga lebih kental.
Dulu saya sering lihat penjual semanggi keliling pakai bakul besar di kepala. Sekarang udah jarang banget. Anak muda banyak yang bahkan belum pernah coba.
Padahal dari sisi kesehatan, semanggi termasuk makanan tradisional sehat:
Tinggi serat
Minim minyak
Banyak sayuran hijau
Cocok buat makanan ringan sore
Cuma memang ya itu… tampilannya kurang “wah”. Jadi kalah saing sama makanan viral kekinian.
Dan jujur, pertama kali saya makan semanggi dulu saya sempat nggak suka. Rasanya asing. Tapi makin sering dicoba malah jadi nagih. Kadang makanan tradisional memang begitu, perlu waktu.
5. Tahu Tek yang Enaknya Justru di Gerobak Pinggir Jalan
Saya tahu tahu tek cukup terkenal. Tapi anehnya masih banyak wisatawan yang belum benar-benar nyobain versi asli pinggir jalan.
Padahal suara gunting “tek tek tek” waktu penjual motong tahu itu bagian dari pengalaman makanannya. Dari situlah nama tahu tek dipercaya berasal.
Isi tahu tek biasanya:
Tahu goreng
Kentang
Lontong
Telur
Taoge
Kerupuk
Siraman bumbu petis kacang
Kunci utamanya ada di petis. Kalau petisnya bagus, rasa umaminya keluar banget. Kalau petis murahan, rasanya langsung flat.
Saya pernah ngobrol sama penjual tahu tek yang bilang kalau mereka masih ngulek bumbu manual karena hasilnya beda dibanding blender. Dan saya percaya sih. Ada tekstur kasar yang bikin rasa lebih hidup.
Wisatawan kadang takut makan di gerobak kaki lima karena dianggap kurang higienis. Memang harus selektif. Tapi justru di situ biasanya rasa tradisionalnya masih terjaga.
Sedikit tips:
Datang malam hari biasanya lebih ramai dan fresh
Minta level petis sesuai selera
Kalau suka pedas, cabai rawitnya jangan tanggung
Karena pernah ada momen saya sok kuat. Pesan pedas maksimal. Lima menit kemudian keringat udah kayak habis olahraga.
Kenapa Banyak Makanan Khas Surabaya Justru Tidak Terkenal?
Setelah sering kulineran di Surabaya, saya sadar satu hal. Banyak makanan enak di kota ini tidak terlalu “dipromosikan”. Warga lokal makan ya karena memang suka, bukan karena viral.
Berbeda dengan beberapa kota wisata lain yang makanan khasnya sudah dikemas modern, kuliner Surabaya masih banyak yang bertahan dalam bentuk sederhana. Kadang warungnya kecil. Kadang tempat duduknya cuma bangku plastik. Bahkan ada yang tidak punya akun media sosial sama sekali.
Tapi justru itu yang bikin pengalaman kulinernya terasa asli.
Google sekarang sebenarnya suka konten yang spesifik dan membantu pengguna. Jadi kalau Anda lagi cari referensi wisata kuliner Surabaya anti mainstream, menurut saya jangan cuma lihat tempat viral. Coba eksplor pasar tradisional, kampung lama, atau tanya langsung ke warga lokal.
Serius deh, beberapa makanan terenak yang pernah saya coba malah ditemukan secara nggak sengaja.
Dan satu lagi… jangan buru-buru menilai dari tampilan tempatnya. Di Surabaya, kadang warung paling sederhana justru punya rasa yang bikin orang balik lagi bertahun-tahun.